Treble clef 2 Lil' Indo Girl: November 2012
Do not take ma chance ! Please be creative !:)

Saturday, November 24, 2012

Angklung


Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari daerah Jawa Barat (tanah sunda). Alat musik ini terbuat dari dua pipa bambu yang disusun pada sebuah batang bambu sebagai pegangan.

Cara memainkannya adalah dengan cara digoyangkan (jadi bunyi yang keluar disebabkan oleh benturan badan pipa bambu), dari hasil benturan itu menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.
Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro danpelog.
Salendro atau kadangkala dieja sebagai saléndro adalah satu di antara dua skala dari gamelan musik
Pelog adalah satu dari dua skala (tangga nada) yang esensial dipakai dalam musik gamelan asli dari Bali dan Jawa di Indonesia.
Ada beberapa jenis angklung di Jawab Barat, sesuai
1. Angklung Kanekes (Baduy)
2. Angklung Dogdog Lojor
3. Angklung Gubrag
4. Angklung Badeng
5. Angklung Buncis
6. Angklung Bungko
7. Angklung Soetigna

Sasando

Indonesia kaya akan berbagai kesenian daerah yang mengagumkan, termasuk di dalamnya adalah berbagai alat musik tradisional dengan kekhasan bunyiannya. Salah satu alat musik yang harus diperhatikan untuk tetap dipelihara adalah sebuah alat instrumen petik asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur yang bernama Sasando, yaitu alat musik yang ditemukan sejak abad 15.
Sasando adalah sebuah alat instrumen petik musik. Bentuk sasando mirip dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola, dan kecapi. Tetapi keunikannya adalah bagian utama sasando berbentuk tabung panjang seperti harpa yang biasanya terbuat dari bambu. Sasando mempunyai media pemantul suara yang terbuat dari daun pohon gebang (sejenis pohon lontar yang banyak tumbuh di Pulau Timor dan Pulau Rote) yang dilekuk menjadi setengah melingkar.
Sasando berbentuk tabung panjang yang biasanya terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah yang diberi ganjalan-ganjalan, di mana senar-senar (dawai-dawai) direntangkan di tabung dari atas ke bawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda pada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.
Bunyi sasando sangat unik jika dibandingkan dengan gitar, biasa sasando lebih bervariasi. Hal ini karena sasando memiliki 28 senar. Itulah sebabnya memainkan sasando tidaklah mudah karena seorang pemain sasando harus  mampu membuat ritme dan feeling bunyi nada yang tepat dari seluruh senar yang ada. Sasando dengan 28 senar ini dinamakan sasando engkel, sedangkan jenis sasando dobel memiliki 56 senar, bahkan ada yang 84 senar.
Cara memainkan sasando adalah dengan dipetik seperti memainkan gitar. Tetapi sasando tidak memiliki chord (kunci) dan senarnya harus dipetik dengan dua tangan, sehingga lebih mirip harpa. Sampai sekarang hampir semua bahan yang dipakai untuk membuat sasando adalah bahan asli, kecuali senarnya.
Pada kenyataannya, tidak banyak lagi orang yang mampu memainkan alat musik ini. Orang-orang tua yang selalu bangga memainkan sasando bagi anak-anak mereka atau dalam upacara-upacara adat, lengkap dengan topi TiiLangga, pakaian dan tarian adat, sudah banyak yang meninggal. Sementara itu generasi muda tak banyak yang tertarik untuk sekadar mengenal apalagi belajar memainkan.


Ondel - ondel

 
 
Ondel-ondel merupakan hasil dari kebudayaan Betawi yang berupa boneka besar yang tingginya mencapai sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, boneka ini dibuat dari anyaman bambu yang dibuat agar dapat dipikul dari dalam oleh orang yang membawanya. Boneka tersebut dipakai dan dimainkan oleh orang yang membawanya. Pada wajahnya berupa topeng atau kedok yang dipakaikan ke anyaman bamboo tersebut, dengan kepala yang diberi rambut dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya di cat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan dicat dengan warna putih.
Jenis pertunjukan ini diduga sudah ada sebelum tersebarnya agama Islam di pulau Jawa dan juga terdapat di berbagai daerah dengan pertunjukkan yang sejenis. Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan di Bali dikenal dengan nama Barong Landung.
Awal mulanya pertunjukan ondel-ondel ini berfungsi sebagai penolak bala dari gangguan roh halus yang mengganggu. Namun semakin lama tradisi tersebut berubah menjadi hal yang sangat bagus untuk dipertontonkan, dan kebanyakan acara tersebut kini di adakan pada acara penyambutan tamu terhormat, dan untuk menyemarakkan pesta-pesta rakyat serta peresmian gedung yang baru selesai dibangun.
Disamping untuk memeriahkan arak-arakan pada masa yang lalu biasa pula mengadakan pertunjukan keliling, “Ngamen”. Terutama pada perayaan-perayaan Tahun Baru, baik masehi maupun Imlek. Sasaran pada perayaan Tahun Baru Masehi daerah Menteng, yang banyak dihuni orang-orang Kristen.Pendukung utama kesenian ondel-ondel petani yang termasuk “abangan”, khususnya yang terdapat di daerah pinggiran kota Jakarta dan sekitarnya.
Musik yang mengiringi ondel-ondel tidak tertentu, tergantug dari asing-masing rombongan. Ada yang diiringi tanjidor, seperti rombongan ondel-ondel pimpian Gejen, kampong setu. Ada yang diiringi dengan pencak Betawi seperti rombongan “Beringin Sakti” pimpinan Duloh, sekarag pimpinan Yasin, dari Rawasari. Adapula yang diirig Bende, “Kemes”, Ningnong dan Rebana ketimpring, seperti rombogan ondel-ondel pimpinan Lamoh, Kalideres. Ondel-ondel betawi tersebut pada dasarnya masih tetap bertahan dan menjadi penghias di wajah kota metropolitan Jakarta.

Thursday, November 22, 2012

TRADISI PASOLA DI SUMBA BARAT

pasola-kodi-albert-usada
PASOLA merupakan seremoni adat yang secara khusus hanya ada di Pulau Sumba., Nusa Tenggara Timur Pasola merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional orang Sumba - yang masih menganut kepercayaan (agama) asli, yaitu Marapu. Sumba Barat di mekarkan menjadi tiga kabupaten, yakni Sumba Barat beribukota di Waikabubak, Sumba Tengah beribukota di Waibakul, dan Sumba Barat Daya beribukota di Waitabula.
Pulau Sumba terbagi atas empat daerah pemerintahan, yaitu Sumba Timur di Waingapu,Sumba Tengah di Waibakul, Sumba Barat di Waikabubak, dan Waitabula di Sumba Barat Daya. Sebelum tahun 2007, pulau Sumba hanya terbagi dalam dua kabupaten, yakni Kabupaten Sumba Barat (Waikabubak) dan Sumba Timur (Waingapu).
Semenjak tahun 2007 seiring dengan asas desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan di daerah, Sumba Barat dimekarkan menjadi tiga kabupaten, yakni Sumba Barat beribukota di Waikabubak, Sumba Tengah beribukota di Waibakul, dan Sumba Barat Daya beribukota di Waitabula.
Kembali tentang Pasola. Secara regular, seremoni atau festival tahunannya, lazim diselenggarakan di bulan Februari atau Maret. Yaitu, di Lamboya (Sumba Barat) pada bulan Februari; di Wanukaka (Sumba Barat) dan Kodi (Sumba Barat Daya) pada bulan Maret
Secara adat setempat, Pasola sebagai serangkaian upacara adat yang dilakukan dalam rangka memohon restu para dewa (sesuai kepercayaan lokal: Marapu) agar harapan panen padi dan palawija, sayur-mayur dan hasil ladang atau kebun mereka di tahun tersebut berhasil dengan baik. Puncak rangkaian upacara adat dilakukan beberapa hari sebelumnya berupa Pasola itu. Pasola bisa dikatakan semacam ala perang (bukan sungguhan) yang dilakukan oleh dua kelompok berkuda yang berbeda sebagai lawan tanding. Setiap kelompok terdiri atas lebih kurang 100 pemuda bersenjatakan tombak - yang dibuat dari kayu berdiameter kira-kira1,5 cm - yang ujungnya dibiarkan tumpul. Walaupun tombak tersebut tumpul, Pasola tak jarang menelan korban luka, bahkan korban jiwa, mati. Namun, uniknya, tak ada dendam dalam Pasola. Jika masih penasaran (ingin balas untuk menang) yach mereka harus sabar menantikan lagi pada Pasola tahun berikutnya.
Teman-teman, uniknya lagi pada seremoni Pasola, apabila ada korban (luka atau mati) dalam seremoni Pasola itu - menurut kepercayaan Marapu si korban tersebut (dianggap) mendapat hukuman (kutukan?) dari para dewa, karena kemungkinan pada waktu sebelum (bertanding dalam Pasola) korban yang bersangkutan telah melakukan suatu pelanggaran atau kesalahan.









Gendang Beleq



A. Latar Belakang

Gendang beleq digunakan sebagai gendrang perang yaitu untuk mengiringi dan memberi semangat kepada perajurit ke medan perang atau menyambut kedatangan para perajurit dari medan perang. Oleh karena itu digunakan gendang beleq yang menghasilkan suara yang besar, semerawut dan menggema sehingga dapat membangakitkan semangat para pejuang. Sehingga disebut gendang beleq.

B. Alat yang digunakan

1 Gendang

Berbentuk silinder dengan lubang yang besar ditengahnya, terbuat dari kayu dan ditutup oleh kulit sapi atau kambing yang telah disamak. Gendang ini dimainkan dengan cara ditepuk dengan dua telapak tangan pada kedua sisinya. Gendang ini dimainkan oleh dua orang sukaha dan gendang ini merupakan alat yang paling utama dalam permainan gendang beleq.

2 Terumpang

Berbentuk mangkuk besar yang salah satu sisinya ada terdapat bundaran kecil yang berupa benjolan. Terumpang terbuat dari kuningan dan dimainkan oleh satu orang sukaha dengan cara dipukul oleh kedua tangan.

3 Gong

Berbentuk bundaran yang ditengahnya terdapat sebuah bundaran lagi dan tepat di bundaran tersebut jika dipukul akan menghasilkan suara yag mendengung. Gong ini dibawa oleh dua orang yaitu satu sebagai pemukul dan yang satu sebagai pemikul karena gong ini lumayan berat. Didalam permainan gendang beleq terdapat dua gong sehingga personil gong berjumlah 4 orang. Gong terbuat dari kuningan.

4 Kenceng

Berbentuk seperti piringan kecil yang mempunyai pegangan. Kenceng ini terdiri dari dua pasang, masing-masing orang memegang sepasang. Sedang kenceng dimainkan oleh 14 orang sukahadan dimainkan dengan cara ditepuk.

5 Suling

Dibuat dari bambu dan diberi lubang agar menghasilkan bunyi yang merdu. Suling dimainkanoleh seorang sukaha dengan cara ditiup.
6 Oncer

Berbentuk seperti gong tapi dimainkan oleh satu orang. Terbuat dari kuningan atau tembaga dan dimainkan dengan cara dipukul.

7 Pencek

Berbentuk seperti kenceng tetapi bentuknya kecil-kecil dan diletakkan pada sebuah papan yang digantung di leher. Jumlah pencek pada papan tersebut maksimal delapan buah dan dimainkan dengan cara ditepuk oleh seorang sukaha.

C. Lagu

Lagu-lagu yang biasa dibawakan pada permainan gendang beleq adalah lagu-lagu dari adat sasak yang berbau tembang sasak. Tujuan dibawakan lagu tersebut adalah untuk memberikan semangat dan dapat menghibur para pejuang yang pergi ke medan perang.
Adapun lagu-lagu yang biasa dibawakan adalah :
- Maiq Angande
- Gelung Perade
- Buaq Ate
- Pedalaman
- Kadal nongaq
- Barong
- Angin Alus
- Buaq odaq
- Sendang Pangan

D. Amanat yang terkandung dalam gendang beleq

Diantara sekian perangkat gendang beleq harus diperlukan kekompakan karena gendang beleq ini dimainkan dengan cara yang kompak, serasi maka akan menghasilkan suara yang semerawut tapi semarak.
1 Gendang beleq adalah suatu hiburan masyarakat dan juga memberikan kita suatu cara yaitu : “ dengan adanya kekompakan dan kerjasama maka akan tercipta hasil yang baik”.
2 Dapat mengisi waktu luang. Khususnya para remaja, dari pada menganggur dan nongkrong di pinggir jalan.