PASOLA merupakan
seremoni adat yang secara khusus hanya ada di Pulau Sumba., Nusa
Tenggara Timur Pasola merupakan bagian dari serangkaian upacara
tradisional orang Sumba - yang masih menganut kepercayaan (agama) asli,
yaitu Marapu. Sumba Barat di mekarkan menjadi tiga
kabupaten, yakni Sumba Barat beribukota di Waikabubak, Sumba Tengah
beribukota di Waibakul, dan Sumba Barat Daya beribukota di Waitabula.
Pulau
Sumba terbagi atas empat daerah pemerintahan, yaitu Sumba Timur di
Waingapu,Sumba Tengah di Waibakul, Sumba Barat di Waikabubak, dan
Waitabula di Sumba Barat Daya. Sebelum tahun 2007, pulau Sumba hanya
terbagi dalam dua kabupaten, yakni Kabupaten Sumba Barat (Waikabubak)
dan Sumba Timur (Waingapu).
Semenjak
tahun 2007 seiring dengan asas desentralisasi penyelenggaraan
pemerintahan di daerah, Sumba Barat dimekarkan menjadi tiga kabupaten,
yakni Sumba Barat beribukota di Waikabubak, Sumba Tengah beribukota di
Waibakul, dan Sumba Barat Daya beribukota di Waitabula.
Kembali
tentang Pasola. Secara regular, seremoni atau festival tahunannya,
lazim diselenggarakan di bulan Februari atau Maret. Yaitu, di Lamboya
(Sumba Barat) pada bulan Februari; di Wanukaka (Sumba Barat) dan Kodi
(Sumba Barat Daya) pada bulan Maret
Secara adat setempat, Pasola sebagai serangkaian upacara adat yang dilakukan dalam rangka memohon restu para dewa (sesuai kepercayaan lokal: Marapu)
agar harapan panen padi dan palawija, sayur-mayur dan hasil ladang atau
kebun mereka di tahun tersebut berhasil dengan baik. Puncak rangkaian
upacara adat dilakukan beberapa hari sebelumnya berupa Pasola itu.
Pasola bisa dikatakan semacam ala perang (bukan
sungguhan) yang dilakukan oleh dua kelompok berkuda yang berbeda sebagai
lawan tanding. Setiap kelompok terdiri atas lebih kurang 100 pemuda
bersenjatakan tombak - yang dibuat dari kayu berdiameter kira-kira1,5 cm - yang ujungnya dibiarkan tumpul. Walaupun tombak tersebut tumpul, Pasola tak jarang menelan korban luka, bahkan korban jiwa, mati. Namun, uniknya, tak ada dendam dalam Pasola. Jika masih penasaran (ingin balas untuk menang) yach mereka harus sabar menantikan lagi pada Pasola tahun berikutnya.
Teman-teman, uniknya lagi pada seremoni Pasola, apabila ada korban (luka atau mati) dalam seremoni Pasola itu - menurut kepercayaan Marapu si korban tersebut (dianggap)
mendapat hukuman (kutukan?) dari para dewa, karena kemungkinan pada
waktu sebelum (bertanding dalam Pasola) korban yang bersangkutan telah
melakukan suatu pelanggaran atau kesalahan.
No comments:
Post a Comment